Aku salah satu orang yang terjebak dalam kenikmatan kopi, ya kopi,
minuman yang mengandung zat alkaloid pahit tak berbau yang ditemukan Dr. Duvour pada tahun 1685 - yang kemudian lebih dikenal dengan kaffein - telah sekian lama menemaniku dan sepertinya membuatku lebih mudah berkonsentrasi jika menghirupnya.
Sejarah mencatat revolusi ilmu pengetahuan dan perubahan sistem sosial politik Internasional terjadi sekitar abad ke-17 dan 18, abad yang sama ketika kopi mulai menyebar luas di benua Eropa.
Malam ini ingin kutulis sedikit cerita mengenai cairan hitam pekat yang sempat mengharumkan nama bangsa Indonesia di dunia selama lebih dari seratus tahun.
Coffea Arabica, merupakan jenis kopi pertama yang juga merupakan kopi dengan kualitas terbaik di dunia, awalnya hanyalah spesies tanaman liar di Benua Hitam, Afrika tepatnya di daerah hutan Ethiopia yang sering dikonsumsi oleh penduduk lokal sebagai obat untuk meningkatkan kesegaran tubuh, kopi kemudian menyebar melalui penjajahan dan sistem perdagangan hingga sampai ke seluruh dunia.
Jenis ini disebut Coffea Arabica karena budi daya kopi ini pertama kali dilakukan oleh orang-orang di semenanjung Arab sekitar abad ke-6. Pada masa itu, di Arab, membawa biji kopi yang belum disangrai keluar wilayah, dapat mengakibatkan anda kehilangan kepala, ya, kepala. Hukuman mati bagi siapa saja yang mencoba membawa keluar biji kopi untuk ditanam.
Kopi adalah tanaman tropis, daerah ideal tempat tumbuhnya adalah sekitar 1.000 meter diatas permukaan laut. Coffea arabika masuk ke Indonesia sekitar tahun 1696, dan tidak lama setelah dibudidayakan di Indonesia, tepatnya sekitar tahun 1707, empat ratus kilogram kopi jawa terbaik dilelang di Eropa dan mencetak rekor lelang fantastis di masa itu. Hingga tahun 1878, kopi dari Indonesia selalu menjadi yang terbaik di dunia, tepat di bawah kopi Yaman atau Coffea Arabika.
Dibalik pahitnya rasa kopi, terkandung jutaan - si Cubi bilang pasti aku berlebihan - aroma yang dapat menceritakan banyak rasa di dalamnya.
Kopi merupakan spesies yang sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, aroma tanah, keasaman, aroma tanaman di sekitanya, ruangan tempat penyimpanan dan bahkan asap rokok ketika kita meminumnya
- that’s why I quit smoke for a while when I decided to enjoying and not just drinking my coffee (unfortunately it’s just for a while) - akan berpengaruh terhadap kopi.
kopi Indonesia terasa kental sekali dengan aroma tanah dan wewangian herbal, cobalah kopi sumatra atau kopi jawa yang baru digiling, seduh dengan air panas, gula secukupnya, hirup aromanya perlahan, perlahan sekali namun sampai dalam..sampai benar-benar dalam, baru kemudian diseruput keras-keras dalam dosis yang sedikit, slrrpp… tambahkan sedikit kayu manis apabila anda menginginkan aroma yang bervariasi… feel it hmm.. rasakanlah betapa beruntung seharusnya orang Indonesia.
Dua jenis kopi ini memang merupakan favoritku, mulai dari menemaniku bemain dengan piksel dan gamut warna, sampai ketika aku melongo bengong sendirian di bandara, sayang perusahaan yang mengolahnya dengan baik sampai ke proses pengemasan dan penjualannya bukan milik orang-orang negaraku sendiri.
Ya, itulah kopi, memiliki sejarahnya sendiri, memiliki penggemarnya sendiri, dan memiliki rasanya sendiri. Oiya lupa, kopi juga memiliki orang-orang seperti si Cubi yang tidak pernah membenci kopi secara khusus namun memang takdir membuatnya tidak bisa bergaul dengan kopi secara intim - lebih mudah dijelaskan dengan kalimat “alergi kafein” -
Sejarah dan beberapa fakta diambil dari koleksi pribadi “a passion of coffee” yang ditulis oleh mbak Diyah Triarsari (best regards miss..), sisanya pengalaman sendiri dalam menikmati kopi dari hari kehari.